Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung, Bogor, menjadi bukti bahwa program pemberdayaan bisa berjalan beriringan dengan operasi tambang. Di desa ini, berdiri sebuah ruang sederhana namun penuh makna: Rumah Belajar GARITAN—singkatan dari Gerakan Ramah Lingkungan untuk Mendukung Ketahanan Pangan.
Program ini lahir pada 2022 lewat kerja sama ANTAM dan pemerintah desa. Kepala Desa Kalong Liud, Jani Nurjaman, menceritakan bahwa desa memang wajib mengalokasikan sekitar 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan dan hewani.
“Untuk 2025, program ini kami integrasikan dengan BUMDes agar lebih kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Rumah Belajar GARITAN menjadi pusat kegiatan empat kelompok tani desa. Dari sinilah pelatihan, pendampingan, hingga pembukaan lahan dilakukan. Salah satu yang merasakan manfaatnya adalah Kelompok Tani Sejahtera yang dipimpin seorang perempuan—Ida Herlina.
Dengan jilbab yang mengikat rapi dan senyum hangat, Ida Herlina (53) menerima tamu di lahan pertaniannya. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari dirinya dibanding petani lain. Namun Ida memegang peran penting: ia adalah satu-satunya perempuan sekaligus ketua kelompok tani.
“Awalnya hanya tiga orang. Sekarang sudah sepuluh. Alhamdulillah semuanya mau belajar dan maju,” katanya.
Lahan pertanian kelompoknya tidak selalu seperti sekarang. Pada 2023, desa memberikan bantuan untuk membuka lahan baru—yang awalnya hanya hamparan gambut dipenuhi alang-alang setinggi badan. Dengan pendampingan berkelanjutan, setiap anggota kini mengelola sekitar 1,5 hektare lahan. Hasil panennya menopang kebutuhan pangan beberapa RW di Kalong Liud.
“Desa kami tidak kesusahan beras lagi. Cukup dari hasil kelompok tani,” ujar Ida.
Ida bukan berasal dari latar belakang pertanian. Sebelum bergabung, aktivitas sehari-harinya hanya berkutat di rumah. Keinginannya untuk belajar dan situasi desa yang pernah dilanda krisis akibat jebolnya bendungan membuatnya tergerak. Ia ingin perempuan ikut mengambil peran, bukan sekadar penonton pembangunan.
Ketika suaminya bekerja di Jakarta dan pendapatan tidak menentu, pertanian menjadi jalan baru bagi Ida untuk berdiri lebih tegak. Ia menyebut pendampingan ANTAM sangat membantu.
“Dulu Ibu tidak tahu apa-apa. Tapi dibimbing terus sampai bisa. Banyak sekali manfaatnya,” ucapnya menutup cerita.
Pongkor hari ini bukan hanya cerita tentang tambang emas. Ia adalah potret bagaimana reklamasi dilakukan dengan komitmen dan bagaimana pemberdayaan memberi ruang bagi masyarakat—terutama perempuan—untuk berkembang.
Di lereng tambang, pohon-pohon endemik tumbuh kembali. Di desa, lahan gambut berubah menjadi padi yang bisa dinikmati warga. Antara lingkungan dan sosial, benang merahnya adalah satu: kerja bersama.
Pongkor tidak hanya menghijau secara fisik. Ia juga menghijau dalam kehidupan warganya. a10







