
KEPRI POST– Sektor perikanan kini menjadi salah satu andalan utama Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dalam menjaga stabilitas inflasi pangan dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Dengan produksi mencapai 380 ribu ton per tahun, Kepri menempati posisi sebagai daerah penghasil perikanan terbesar kedua di Sumatera.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri, Said Suradjat, mengatakan potensi besar ini tidak lepas dari kondisi geografis Kepri yang 98 persen wilayahnya merupakan lautan. Kekayaan sumber daya laut tersebut menjadi modal kuat bagi pengembangan perikanan tangkap dan budidaya di berbagai kabupaten dan kota.
“Potensi sumber daya ikan di Kepri sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana menjaga rantai pasok dan kestabilan harga agar tetap terkendali,” kata Said, Sabtu 25 Oktober 2025.
Pengawasan Harga Ikan untuk Mengendalikan Inflasi
Menurut Said, DKP Kepri bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan pemantauan harga ikan di pasaran, terutama menjelang hari besar keagamaan dan saat musim cuaca ekstrem yang sering memengaruhi pasokan ikan.
Ia mencontohkan, salah satu komoditas yang cukup stabil adalah ikan tongkol, yang harganya berkisar antara Rp20.000–Rp30.000 per kilogram. Selain mudah dijangkau masyarakat, ikan tongkol juga memiliki kandungan protein tinggi, sehingga bisa menjadi alternatif konsumsi bergizi sekaligus penyeimbang inflasi pangan.
“Harga ikan sangat bergantung pada musim. Tapi selama rantai pasoknya terjaga, ikan tetap bisa menjadi pilihan utama untuk konsumsi sehat masyarakat,” jelasnya.
Konsumsi Tinggi dan Ekspor Meningkat
Di Kota Batam, tingkat konsumsi ikan masyarakat bahkan mencapai lebih dari 30 ribu ton per tahun. Namun, produksi perikanan di Kepri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal.
Data Dinas Perikanan Kota Batam mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2025, ekspor produk perikanan mencapai 3.275 ton atau senilai Rp129 miliar. Komoditas unggulan ekspor antara lain ikan segar, olahan beku, serta hasil tangkapan laut bernilai tinggi.
Untuk memperkuat sektor hulu dan hilir perikanan, Pemerintah Provinsi Kepri saat ini sedang mengusulkan pembangunan Koperasi Nelayan Merah Putih di tujuh kabupaten/kota dengan total 109 lokasi (desa dan kelurahan).
Rinciannya meliputi Tanjungpinang 7 lokasi, Batam 8 lokasi, Bintan 17 lokasi, Karimun 13 lokasi, Lingga 28 lokasi, Natuna 20 lokasi, dan Anambas 17 lokasi.
Pembentukan koperasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi nelayan dalam rantai distribusi, meningkatkan kesejahteraan, serta memperluas akses pembiayaan dan pasar.
Dengan luas wilayah laut yang mencapai hampir seluruh provinsi, Kepulauan Riau memiliki potensi luar biasa untuk mendukung perekonomian daerah. Sektor perikanan bukan hanya berperan sebagai penyedia pangan bergizi, tetapi juga menjadi alat penting dalam menjaga stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi lokal.
“Dengan potensi laut yang luas dan produktivitas yang terus meningkat, Kepri siap menjadi motor penggerak ekonomi biru Indonesia,” kata Said dengan optimis. ***







