Oleh: Pribakti B *)
Mendidik bangsa adalah upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang komprehensif, tidak hanya dalam pengetahuan akademis tetapi juga dalam pembentukan karakter, etika, dan nilai-nilai moral. Ini melibatkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan generasi yang cerdas, beretika, dan memiliki daya saing tinggi demi kemajuan bangsa di masa depan.
Mendidik bangsa itu mudah karena yang sering dibahasakan sebagai sulit dan mudah itu biasanya cuma menyangkut soal cara. Padahal kesulitan pendidikan sebenarnya ternyata tidak terletak pada cara, tetapi pada niat. Niat mendidik bangsa itu sekarang-kalau tak boleh dibahasakan tidak ada-pasti sedang merosot luar biasa. Lembaga pendidikan memang masih ada, tetapi sebagian besar wajah mereka terlihat sebagai lembaga yang sedang berjualan pendidikan.
Akibatnya, kemerosotan nilai itu berlangsung di mana-mana. Kemerosotan murid/mahasiswa, kemerosotan guru/dosen, kemerosotan sekolah/perguruan tinggi, masyarakat dan akhirnya kemerosotan negara. Dari mana semua ini berasal? Ada banyak jawaban. Namun, secara sederhana, induknya adalah kapitalisasi ilmu. Ilmu sudah tidak lagi diajarkan , tetapi diperjualbelikan. Maka, yang berlangsung bukan lagi pendidikan, melainkan perdagangan.
Ilmu hasil dagang itu jauh sekali bedanya dengan hasil pengajaran. Yang satu bersifat pragmatik, yang lain bersifat ideologis. Jika pragmatis itu berwatak kalkulatif, watak ideologis itu bersifat distributif. Kalkulatif itu dikumpulkan , dimonopoli, dan dilindungi hak cipta, sementara distributif itu didermakan dan disebarkan.
Jadi, marilah kita melihat perbandingan antara watak ilmu yang diperdagakglan dan watak ilmu yang didermakan. Ilmu hasil perdagangan ini kemudian hanya akan singgah pada pihak yang sanggup membeli. Pembeli ilmu itu biasa saja kemudian menjadi pihak yang berilmu, tetapi inilah ilmu yang kemudian hinggap di dalam diri seorang yang membeli ilmu karena ia mengerti nilai dagang. Tegasnya, ia seorang pedagang yang berilmu tidak karena ingin pintar, tetapi sekadar ingin mendapat keuntungan.
Dengan demikian, terhadap kebodohan disekitarnya ia tak akan peduli sepanjang orang-orang bodoh itu tidak membeli. Kebodohan sosial disekitarnya akan ia tatap sebagai karma gara-gara tak mau membeli ilmu darinya. Pada era ini, ilmu sepenuhnya menjadi barang monopoli. Hasilnya, kehidupan sosial akan mengalami bermacam-macam paradoks. Negara yang dicitrakan sebagai besar dan kaya raya adalah negara dengan utang raksasa. Banyak sekali orang pintar, tetapi kerusakan dimana-mana. Banyak orang sadar kebersihan tetapi sampah menumpuk di mana-mana. Banyak sekolah polisi, tetapi kejahatan tetap merajalela.
Kenapa semua itu terjadi? Karena ilmu sesungguhnya sedang tidak bekerja, kecuali untuk kepentingan sendiri. Ia tidak bekerja untuk hidup bersama. Kepentingan pribadi meninggi, kepentingan bersama merendah. Kehidupan umum menjadi gangguan bagi harmoni dan orang lebih suka membangun benteng-benteng di ruang-ruang pribadi. Itulah saatnya akan muncul era pengagungan pribadi dan akan dimulainya keruntuhan hidup bersama.
Sungguh berbeda dari kedudukan ilmu ketika ia didermakan. Walau sedehana, ia akan menjadi suluh hidup. Metode ilmu hitung sederhana yang diajarkan guru-guru SD di masa kecil saya, yang penuh ketulusan dan kini menancap di kepala. Ini tidak cuma persoalan daya ingat. Ini adalah kedudukan ilmu yang bekerja dan menjadi benteng bagai pemiliknya.
Sebenarnya ilmu tidak pada ketinggiannya, tetapi pada kegunaannya untuk keluhuran manusia dan mari bertanya, apakah nilai pendidikan kita saat ini demi sebuah keluhuran bersama? Bila tidak, maka teruslah mendidik bangsa walau tidak mudah.
*) dokter senior RSUD Ulin Banjarmasin







