Harga minyak dunia naik seiring dengan kemajuan negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang memperkuatOutlookatau perkiraan permintaan energi dan mengangkat aset berisiko.
Harga minyak Brent naik di atas US$ 66 per barel, setelah melonjak hampir 8% pekan lalu. Sementara harga minyak West Texas Intermediate mendekati US$ 62 per barel.
Para negosiator utama mengatakan mereka telah mencapai kesepakatan pada sejumlah poin, membuka jalan bagi Presiden Donald Trump dan mitranya Xi Jinping untuk menyelesaikan kesepakatan. Para pemimpin negara tersebut akan bertemu pada hari Kamis mendatang.
“Ancaman Trump untuk memberlakukan tarif 100% pada barang-barang Tiongkok secara efektif telah dihilangkan,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dikutip dari CNBC News, Senin (27/10).
- IHSG Diperkirakan Melemah, Saham RAJA, ESSA, MEDC, hingga BBTN Jadi Rekomendasi
- Di Tengah KTT ASEAN, AS – Tiongkok Sepakat Meredakan Ketegangan Tarif Dagang
- Wall Street Mencapai Rekor Tertinggi Sepanjang Masa Didorong Data Inflasi
AS dan Tiongkok merupakan negara dengan dua ekonomi terbesar di dunia. Langkah-langkah untuk menenangkan ketegangan perdagangan yang telah menggoncang pasar global akan menjadi hal positif bagi pertumbuhan ekonomi global.
Selain penurunan ketegangan antara AS dan Tiongkok, harga minyak pulih dari level terendah lima bulan pekan lalu juga disebabkan oleh sanksi AS terhadap dua produsen minyak mentah terbesar Rusia yaitu Rosneft dan Lukoil. Hal ini membantu mengurangi kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global yang semakin meningkat.
Menurut seorang pejabat, pemberian sanksi ini merupakan upaya AS agar perang Rusia-Ukraina berakhir. Hal ini juga dilakukan agar membuat perdagangan Rusia menjadi lebih sulit, mahal, dan berisiko, tanpa memicu gangguan pasokan mendadak yang dapat meningkatkan harga global.
Hingga saat ini, pengolah minyak di India mengatakan mereka memperkirakan aliran pasokan akan turun mendekati nol, sementara pengolah di Tiongkok menghentikan sebagian pembelian.
Di samping itu, penurunan impor kargo Rusia oleh pembeli utama India dan Tiongkok berpotensi meningkatkan permintaan terhadap grade alternatif, memberikan dukungan bagi harga yang telah tertekan tahun ini akibat peningkatan produksi dari aliansi negara-negara eksportir minyak dan sekutunya atau OPEC+.
“Harapan akan kesepakatan perdagangan AS-Cina yang segera tercapai merupakan faktor positif bagi sentimen ekonomi dan permintaan minyak, hal ini menambah premi risiko Rusia pada pagi ini. Namun, saya memperkirakan latar belakang kelebihan pasokan akan membatasi kenaikan. Brent mungkin kembali ke zona nyaman sebelumnya di kisaran US$ 60-an per barel,” kata Pendiri firma analisis pasar Vanda Insights yang berbasis di Singapura, Vandana Hari.







