Home / News / Ketekunan Ekspansi Migas, Empat Negara Maju Jadi Penyebab Stagnasi Upaya Iklim Global

Ketekunan Ekspansi Migas, Empat Negara Maju Jadi Penyebab Stagnasi Upaya Iklim Global

Purbaya.id, JAKARTA — Empat negara maju yang mencakup Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Norwegia disebut sebagai penyebab utama upaya iklim global yang mandek. Ekspansi bahan bakar fosil yang dipimpin oleh negara-negara tersebut telah menghambat upaya pencegahan pemanasan global sejak 10 tahun Perjanjian Paris ditandatangani.

Laporan Oil Change International mengungkap bahwa keempat negara ini secara kolektif meningkatkan produksiminyak dan gashampir 40% atau setara dengan tambahan pasokan 14 juta barel minyak per hari dalam kurun waktu 2015 hingga 2024. Kondisi ini bertolak belakang dengan tren produksi minyak dan gas global yang justru turun 2% pada periode yang sama.

Amerika Serikat menjadi penyumbang terbesar, dengan peningkatan bersih ekstraksi global lebih dari 90% hingga 2024. Negara Paman Sam tercatat menambah produksinya hampir 11 juta barel setara minyak per hari atau lebih dari lima kali lipat dibandingkan dengan negara mana pun di dunia.

Pengurangan konsumsi bahan bakar fosil secara bertahap merupakan salah satu aspek penting untuk mencapai target iklim. Sains telah jelas menyatakan bahwa untuk menjagapemanasan globaltetap di bawah 1,5 derajat Celsius (°C), pengurangan ekspansi bahan bakar fosil dan penghapusan bertahap terhadap produksi serta penggunaan minyak, gas, dan batu bara perlu ditempuh.

Jika polusi karbon dari bahan bakar fosil terus diproduksi dengan laju saat ini, dunia akan menghabiskan sisa anggaran karbonnya dalam waktu hanya tiga tahun.

Empat negara kaya yang paling banyak mengekstraksi minyak dan gas sejak Perjanjian Paris juga menjadi kelompok yang berencana memperluas produksi dengan volume terbesar dalam satu dekade mendatang.

Analisis sebelumnya oleh Oil Change International bahkan memperingatkan bahwa keempat negara maju ini adalah “perusak planet” utama (Planet Wreckers) yang mendorong sebagian besar ekspansi minyak dan gas global hingga 2035.

Baca Juga  Pemprov Sumut Gencar Mendistribusikan Cabai dari Jawa, Begini Catatan Pakar

“Sepuluh tahun yang lalu di Paris, negara-negara berjanji untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C. Target ini mustahil tercapai tanpa menghentikan ekspansi dan produksi bahan bakar fosil. Namun negara-negara kaya yang paling bertanggung jawab atas krisis iklim justru gagal menepati janji itu,” kata Romain Ioualalen, Global Policy Lead di Oil Change International dalam pernyataan pers yang dikutip Kamis (30/10/2025).

Ia menambahkan bahwa negara-negara ini memiliki kewajiban moral dan hukum untuk menjadi yang pertama menghentikan bahan bakar fosil, serta menyediakan pendanaan iklim bernilai triliunan dolar dengan skema yang adil bagi negara-negara di belahan bumi selatan.

“Segala bentuk kelambanan adalah pengkhianatan terhadap sains dan pengabaian tanggung jawab,” tambahnya.

Meskipun demikian, Ioualalen menyatakan bahwa harapan belum sepenuhnya hilang. Hal ini terlihat dari semakin bertambahnya negara yang kini mendorong berakhirnya era bahan bakar fosil. Negara Amerika Selatan, Kolombia, bahkan berencana menjadi tuan rumah konferensi global pertama tentang penghapusan bahan bakar fosil pada tahun 2026.

Langkah awal yang penting adalah bagi pemerintah yang akan bertemu di COP30 di Belém untuk menyepakati peta jalan kolektif mengenai tenggat penghentian bahan bakar fosil yang adil dan berbeda antarnegara, serta mengatasi hambatan sistemik yang menghalangi negara-negara Selatan beralih keenergi“baru saja diperbarui, termasuk dalam hal pembiayaan,” kata Ioualalen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *