JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pasokan solar di dalam negeri berpotensi mengalami oversupply atau kelebihan suplai saat program biodiesel B50 mulai diterapkan pada 2026.
Mantan Menteri Investasi/Kepala BKPM era Presiden Joko Widodo itu bahkan optimistis Indonesia tidak lagi perlu mengimpor solar pada tahun depan.
Sebagai catatan, pada 2024 Indonesia masih mengimpor sekitar 7,9 juta kiloliter (kl) solar. Dengan penerapan biodiesel B40 yang sudah berjalan sejak awal 2025, Kementerian ESDM menargetkan impor solar bisa ditekan menjadi 4,9 juta kl, atau sekitar 10% dari total konsumsi nasional.
“Kalau kita dorong B50 untuk ke depan, suplai solar kita bisa berlebih dan bahkan bisa diekspor,” ujar Bahlil kepada wartawan di Istana Negara, Senin (3/11/2024).
Tak hanya itu, Bahlil juga menyampaikan bahwa proyek kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan milik Pertamina bakal diresmikan pada November 2025. Ia mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah meminta agar proyek tersebut segera diselesaikan demi memperkuat kedaulatan energi nasional.
“Tadi kami laporkan kepada Bapak Presiden, insyaallah 2026 kita tidak akan impor solar lagi karena kilang RDMP Balikpapan akan diresmikan pada 10 November ini,” kata Bahlil.
Dengan beroperasinya kilang RDMP dan penerapan B50, Bahlil optimistis Indonesia justru akan mengekspor solar akibat pasokan yang melimpah.
“Kita lagi hitung, tapi targetnya RDMP rampung, B50 jalan, dan kita akan oversupply solar,” jelasnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, proyek RDMP Balikpapan memiliki nilai investasi mencapai US$7,4 miliar. Dari jumlah tersebut, US$4,3 miliar berasal dari ekuitas, sementara US$3,1 miliar didanai melalui pinjaman yang dijamin oleh Export Credit Agency (ECA).
Proyek ini disebut akan memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang sebesar 100.000 barel per hari, sehingga total kapasitas pengolahan mencapai 360.000 barel per hari. a6







