Home / Opini / Sukses Bukanlah Tujuan Hidup

Sukses Bukanlah Tujuan Hidup

Oleh: Pribakti B *)

 

Dalam dunia yang dikuasai angka, grafik, dan laporan keuangan, definisi sukses sering kali diukur dengan seberapa tinggi seseorang mampu menaikkan kurva kekayaannya. Banyak yang menganggap sukses berarti memiliki rumah megah, jabatan prestisius, rekening gemuk, atau bahkan pengaruh besar di ruang publik.

 

Kata “sukses” sebenarnya berasal dari kata Latin, successus, artinya menyusul. Dalam artian ini , sukses adalah suatu hasil yang menyusul atau datang sesudah seseorang melakukan usaha-usaha tertentu. Jika  sukses adalah hasil yang kita raih, lalu apa sebenarnya yang ingin kita raih dalam hidup ini? Jawaban orang terhadap pertanyaan ini tentu berbeda-beda. Tetapi kalau dicermati secara seksama, yang diimpikan banyak orang di muka bumi ini hampir sama: kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Diantara tiga hal ini, yang paling diingini adalah kekayaan. Orang ingin punya harta berlimpah dan hidup mewah.

 

Pada mulanya , hasrat benda diinginkan karena tubuh kita memang membutuhkannya. Sebagai makhluk hidup , manusia mau tidak mau memerlukan makan-minum, tempat tinggal dan pakaian. Manusia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa memenuhi semua kebutuhan dasar itu. Di sisi lain, ada kenikmatan yang dirasakannya, berupa kenikmatan ragawi, ketika ia dapat memenuhi semua kebutuhan itu.

 

Tetapi kenikmatan tubuh itu singkat, terbatas dan bersifat pribadi. Sekuat-kuatnya makan, berapa piring Anda bisa habiskan? Sebanyak-banyaknya pakaian , berapa buah yang bisa Anda kenakan? Seluas-luasnya rumah, berapa meter yang bisa Anda tiduri? Selain itu, makanan yang Anda rasakan lezat dan nikmat, belum tentu nikmat bagi orang lain. Begitu pula dengan pakaian dan tempat tinggal.

 

Karena kenikmatan benda itu terbatas, orang umumnya tidak puas. Orang kemudian menginginkan yang lain, yang bersifat sosial, yaitu sukses. Punya banyak harta belum berarti sukses jika tidak banyak orang lain yang dibuatnya terkesan. Karena itu, kekayaan biasanya akan dianggap sukses ketika ia melahirkan ketenaran. Sukses akan makin bertambah jika kekayaan dan ketenaran itu dilengkapi dengan kekuasaan.

Baca Juga  Buruk Kuota BBM, Cermin Pertamina Dibelah

 

Tetapi sukses itu bukan zona aman. Karena berwatak sosial , sukses bersifat kompetitif. Untuk sukses, Anda harus bersaing mengalahkan yang lain. Selain persaingan, sukses memancing iri dan dengki. Orang yang belum/tidak sukses, iri pada orang yang sukses. Sedangkan orang yang sukses, iri pada yang lebih sukses dari dirinya . Iri artinya menginginkan nikmat yang ada pada orang lain. Iri menjadi dengki ketika orang berusaha menghancurkan nikmat yang ada pada orang lain itu.

 

Namun tak sedikit orang yang hanyut terpukau dengan sukses dan sangat takut kehilangannya. Ia curahkan dan korbankan segalanya untuk meraih dan mempertahankan sukses. Karena sukses itu kompetitif, maka cepat atau lambat, orang seperti ini pasti akan mengalami kejatuhan. Tak ada orang selamanya berkuasa dan terkenal. Bahkan tak ada kekayaan yang selalu memuliakan pemiliknya.

 

Dengan demikian, sukses bukanlah tujuan hidup yang sejati karena nilai hidup manusia yang sebenarnya tidak ditentukan oleh harta, kedudukan dan popularitas, melainkan oleh kebaikan yang ia berikan pada kehidupan. Kata Nabi, sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dengan melayani, ia merasakan hidup yang berarti. Dengan memberi , ia justru menerima.

 

Alhasil, yang abadi bukanlah sukses melainkan kebaikan. Walau badan berkalang tanah, budi yang baik akan tetap dikenang jua. Yang baik adalah yang bermanfaat. Sukses memang bisa melipatgandakan kebaikan , tetapi juga bisa menjerumuskan manusia ke jurang kehinaan.

 

*) dokter senior RSUD Ulin Kota Banjarmasin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *