Home / Fiction / Lorong Malang

Lorong Malang

Kaki menjejak tanah Malang,
aroma hujan dan tanah basah membangkitkan memori ibu.
Burung-burung yang terbang dan daun yang jatuh
adalah guru yang mengajarkan kesabaran.

Kota ramai, lampu berpendar seperti mata yang menilai,
dan ada yang diam-diam menajamkan kata untuk menjatuhkan.
Namun cemooh hanyalah bayangan,
hina hanyalah angin yang lewat.

Setiap langkah adalah doa, setiap luka adalah guru,
dan setiap karya adalah cahaya yang menari di antara waktu.
Sunyi berbisik: “Kemenangan sejati bukan menundukkan dunia,
tetapi menaklukkan diri sendiri.”

Malam tiba, lampu-lampu kota menjadi lentera,
angin membawa aroma tanah, doa, dan kenangan.
Setiap jejak, setiap napas, setiap doa
adalah benang yang menenun diri sendiri.

Aku menulis bait demi bait,
melukis diri di antara cahaya dan bayang-bayang Malang.
Hidup adalah puisi,
dan aku adalah penyairnya.

Anang Fadhilah

Malang, 6 Desember 2025

Baca Juga  “Urban Legend Kalsel Diangkat ke Layar: Banua Film Fund Rilis Empat Film Horor Baru”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *