Home / Opini / INFRASTRUKTUR BISA DIPULIHKAN TETAPI TRAUMA KORBAN SIAPA YANG MENYEMBUHKAN?

INFRASTRUKTUR BISA DIPULIHKAN TETAPI TRAUMA KORBAN SIAPA YANG MENYEMBUHKAN?

Oleh : Ririe Aiko

Di tengah banyaknya video banjir Sumatera yang berseliweran di media sosial, rekaman rumah hanyut, jeritan warga, hingga ribuan orang yang masih mencari keluarga mereka, ada satu unggahan yang membuat saya merenung cukup lama. Bukan hanya soal tragedi di Sumatera, tetapi juga tulisan seorang penyintas tsunami Aceh yang pernah terjadi pada 26 Desember 2004, bencana dahsyat yang menelan lebih dari 170 ribu jiwa di Indonesia.

Dalam video unggahannya, dia menceritakan betapa dampak psikologis dari sebuah bencana alam tidak pernah benar-benar hilang, bahkan setelah puluhan tahun berlalu. Ia pun menuturkan bahwa hingga kini hidupnya tak pernah kembali utuh; selalu ada sisi trauma yang terus menghantui. Bagaimana tidak, ketika bencana itu terjadi, ia masih menjadi seorang anak berusia tujuh tahun, yang harus menyaksikan adiknya sekarat karena terhimpit reruntuhan dibawah air. Ia masih mengingat dengan jelas, wajah adiknya yang berubah membiru saat air bah menenggelamkannya.

Meski jarak mereka begitu dekat, ia tak mampu menyelamatkannya, karena tubuhnya sendiri pun terombang-ambing, hingga akhirnya terseret arus ke tengah laut. Bahkan bukan hanya adiknya, tapi ayah dan ibunya juga ikut tersapu arus, dan menjadi daftar korban yang mengapung di antara puing-puing banjir. Dalam hitungan detik, ia menjadi sebatang kara, tak ada lagi sanak keluarga, hanya dirinya yang berhasil diselamatkan.

Apakah menjadi satu-satunya yang selamat membuatnya bersyukur? Di satu sisi, banyak orang menyampaikan rasa syukur atas hidupnya yang berhasil terselamatkan. Namun di sisi lain, ia justru menghadapi pergolakan batin: mengapa hanya dirinya yang selamat, dan bagaimana ia harus melanjutkan hidup seorang diri tanpa satu pun anggota keluarga?

Baca Juga  Sukses Bukanlah Tujuan Hidup

Meski tsunami Aceh telah berlalu lebih dari dua dekade. Tapi ia masih sering mengalami mimpi buruk, terbangun dengan napas tersengal, dan merasakan ketakutan setiap kali hujan deras turun. Lebih jauh lagi, ia harus dipaksa kuat, menghadapi kenyataan sulit, bahwa ia harus tumbuh sebagai anak yatim piatu di panti asuhan, tanpa keluarga dan tanpa dukungan emosional yang semestinya ia dapatkan. Tidak seperti jembatan yang bisa dibangun ulang, atau rumah yang bisa didirikan kembali melalui anggaran pemulihan. Luka trauma para korban tetap bertahan dan tidak bisa dipulihkan dengan mudah.

Saat ini kita mungkin telah melihat kembali pembangunan kota Aceh yang dulu porak-poranda akibat tsunami. Puing-puing reruntuhan sudah dibangun ulang, dan tragedi itu kini menjadi bagian sejarah yang tercatat sebagai kisah kelam bangsa. Banyak orang pernah berduka dan bersimpati terhadap peristiwa tersebut, namun ketika pemberitaan mulai tergantikan isu lain, perhatian publik pun beralih. Berbeda dengan para penyintas yang harus terus hidup bersama ingatan tragis itu. Saya yakin bukan hanya pemuda tersebut yang mengalami kesulitan, tetapi semua penyintas bencana alam pun merasakan luka yang sama, luka yang tak mudah hilang meski waktu terus berjalan.

Membaca kisah pemuda itu, pikiran saya langsung tertuju pada para penyintas bencana banjir Sumatera saat ini.

Ada mereka yang selamat, tapi harus menjadi yatim piatu dalam sekejap.
Ada mereka yang bertahan hidup, tapi harus kehilangan anak-anaknya.
Ada juga mereka yang selamat, namun pasangannya tercatat sebagai korban yang tenggelam.

Mereka dipaksa untuk tetap berjalan meski fondasi kebahagiaan telah hilang. Sedih, tragis, trauma, tiga kata yang tidak akan selesai meski berita tentang banjir berhenti menjadi trending.

Baca Juga  Kerusakan Ekosistem Karena Ulah Manusia

Lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas duka sedalam ini?

Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan satu pihak, tetapi untuk membuka mata kita terhadap akar masalah: kerusakan hutan yang dibiarkan, mitigasi yang sering hanya menjadi formalitas, tata ruang yang longgar, dan peringatan para ahli yang tak pernah benar-benar menjadi prioritas. Sudah lama banyak pihak mengingatkan tentang bahaya penggundulan hutan, tetapi pada kenyataannya kebijakan sering kali mengabaikan luka para korban. Inilah fakta dari Banjir Sumatera yang bukan hanya semata bencana alam tapi juga bencana kebijakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *