Home / Pendidikan / Survei: 48 Persen Perusahaan di Indonesia Manfaatkan AI untuk Dorong Keberlanjutan

Survei: 48 Persen Perusahaan di Indonesia Manfaatkan AI untuk Dorong Keberlanjutan

Di tengah perdebatan global mengenai etika kecerdasan buatan (AI), tren menarik muncul dari dunia korporasi Indonesia. Survei tahunan Schneider Electric mencatat bahwa 48 persen perusahaan di Indonesia kini memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung target keberlanjutan (sustainability).

Angka tersebut menunjukkan adanya pergeseran paradigma. Jika sebelumnya keberlanjutan sering dianggap sebagai jargon dalam laporan tahunan, kini teknologi digital—terutama AI—telah merambah langsung ke proses operasional perusahaan.

Survei yang sama mengungkapkan bahwa 45 persen perusahaan masih melihat fluktuasi harga energi sebagai risiko utama. Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, efisiensi energi dipandang sebagai strategi vital. Di sinilah AI berperan penting, khususnya melalui pengumpulan dan pelaporan data otomatis (49 persen) serta optimalisasi konsumsi energi (43 persen).

Teknologi ini disebut mampu mengurangi hambatan implementasi ESG (Environmental, Social, and Governance) yang kerap terkendala kompleksitas data. AI memungkinkan perusahaan melacak kebocoran energi dan inefisiensi operasional secara real-time, sebuah kemajuan signifikan dibanding pencatatan manual.

Green Impact Gap Masih Menganga

Meski adopsi teknologi meningkat, survei menyoroti ironi besar yang disebut Green Impact Gap. Sebanyak 97 persen perusahaan memiliki target keberlanjutan, namun kurang dari separuh yang telah mengambil langkah komprehensif untuk mencapainya.

Kesenjangan ini menunjukkan adanya jarak antara ambisi manajemen dan eksekusi di lapangan. Menurut laporan tersebut, AI hanya berfungsi sebagai alat pendukung dan tidak serta merta membuat operasional perusahaan lebih ramah lingkungan tanpa perubahan sistemik seperti transisi energi dan pembenahan rantai pasok.

Survei juga menyoroti isu lain yang tidak kalah penting, yakni jejak karbon dari penggunaan AI itu sendiri. Teknologi ini membutuhkan daya komputasi besar dan meningkatkan permintaan pada pusat data. Meski 37 persen pemimpin bisnis telah menerapkan kebijakan green IT, angka ini dinilai perlu ditingkatkan seiring masifnya penggunaan AI.

Baca Juga  Mengenang Dwianto: TENTANG IMAJINASI DAN ANAK-ANAK YANG TETAP BERLARI DI DALAM DIRI KITA

Industri pusat data menjadi sektor yang paling progresif dengan tingkat inovasi mencapai 51 persen. Sektor ini didorong untuk memastikan infrastruktur digital ditenagai energi bersih agar tidak menciptakan paradoks: menggunakan AI yang boros energi untuk menghemat energi.

Tantangan dan Langkah ke Depan

Dengan dukungan regulasi dan teknologi yang semakin tersedia, masa depan keberlanjutan korporasi dinilai menjanjikan. Namun, tantangan utama tetap pada upaya menutup Green Impact Gap.

Laporan menegaskan bahwa AI harus dipandang sebagai akselerator, bukan tujuan akhir. Perusahaan didorong untuk menerjemahkan target keberlanjutan ke dalam kebijakan nyata seperti mengganti mesin tua, beralih ke pemasok energi hijau, hingga berinvestasi langsung pada energi terbarukan.

Tanpa langkah konkret, angka adopsi AI sebesar 48 persen hanya akan menjadi statistik tanpa dampak nyata terhadap lingkungan.

Achmad Ridwan, Mahasiswa Aktif, Prodi Sains Data Universitas Islam Negeri K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *