Jakarta – Popularitas cerutu premium Indonesia menunjukkan peningkatan di berbagai negara, seiring perubahan pola konsumsi produk tembakau yang menekankan pengalaman merokok secara perlahan dan personal. Tren ini mendorong sejumlah produk cerutu asal Indonesia masuk pasar internasional, terutama karena karakteristik bahan bakunya, seperti daun pembungkus (wrapper) dari Sumatera yang memiliki profil rasa khas.
Permintaan cerutu Indonesia meningkat di beberapa negara tujuan utama ekspor, mulai dari Jepang hingga Jerman. Indonesia sebagai salah satu produsen tembakau terbesar di dunia juga memproduksi cerutu untuk pasar global. Berdasarkan data perdagangan internasional terbaru dari TradeMap (International Trade Centre/ITC), ekspor cerutu Indonesia ke negara-negara seperti Jerman, Jepang, Belgia, Amerika Serikat, dan Belanda menunjukkan tren peningkatan sejak pandemi COVID-19.
Menurut studi Yafi et al. berjudul “Dinamika Daya Saing Cerutu Indonesia di Pasar Internasional”, meskipun permintaan di Jepang sempat menurun, cerutu Indonesia tetap memiliki daya saing kuat. Hal ini didorong oleh Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) sejak 2008 yang menetapkan tarif impor 0% untuk cerutu Indonesia, dibandingkan tarif 16% untuk produk dari Kuba, Republik Dominika, dan Nikaragua, serta 5,8% untuk produk Belgia dan Jerman.
Pasar cerutu premium global, khususnya di Jerman, diproyeksikan terus berkembang. Nilai pasar diperkirakan meningkat dari USD 734,2 juta pada 2023 menjadi USD 1,191 miliar pada 2024, dan diprediksi mencapai lebih dari USD 2,1 miliar pada 2033. Pertumbuhan pasar ini membuka peluang strategis bagi produsen Indonesia, terutama cerutu berbahan wrapper Sumatra yang telah digunakan berbagai merek internasional.
Daun pembungkus cerutu menjadi faktor penting dalam menentukan karakter rasa dan aroma. Beberapa tipe wrapper yang populer di pasar global antara lain:
Connecticut Shade (AS): Lembut, creamy, dengan sentuhan kacang dan manis tipis. Contoh: Davidoff Aniversario Series, Ashton Classic.
Sumatra (Indonesia): Mild hingga medium, seimbang antara manis, rempah, dan aroma cedar. Contoh: Montecristo White Series, Perdomo 10th Anniversary Champagne.
Habano (Kuba): Kompleks, earthy, peppery, dengan sentuhan leathery. Contoh: Partagás Serie D No. 4, Padron 1964 Anniversary Series.
Ecuadorian (Ekuador): Variatif, dari creamy hingga pedas beraroma lada. Contoh: My Father Le Bijou 1922, La Aroma de Cuba.
Cameroon (Afrika Barat & Tengah): Aroma kayu, tanah, dengan sedikit manis. Contoh: Arturo Fuente Hemingway, CAO Cameroon.
Cerutu Indonesia, terutama dengan wrapper Sumatra, dinilai mampu bersaing di pasar premium global berkat kualitas bahan baku dan harga yang kompetitif di beberapa negara tujuan ekspor. a6







