Home / News / Utang Proyek Whoosh Jadi Ujian bagi Danantara, Persepsi Investor Bisa Negatif

Utang Proyek Whoosh Jadi Ujian bagi Danantara, Persepsi Investor Bisa Negatif

Kehadiran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh dinilai dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia. Meskipun demikian, dampaknya tidak terjadi secara langsung.

Pengamat BUMN dari Next Center Herry Gunawan menilai persepsi investor bisa negatif jika nantinya Danantara tidak mampu menyelesaikan masalah utang tersebut.

“Namun, tidak secara langsung. Masalah persepsi negatif akan muncul ketika Danantara tidak mampu menyelesaikan masalah yang ada di BUMN. Mengingat BPI Danantara adalah lembaga publik yang langsung bertanggung jawab kepada presiden, persepsinya bisa menjadi indikasi kemampuan pemerintah dalam menyelesaikan masalah BUMN kurang baik,” kata Herry kepadaPurbaya.id, Senin (27/10).

Proyek Whoosh memiliki nilai investasi sebesar USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120,6 triliun sudah termasuk kenaikan biaya (kelebihan biaya) senilai USD 1,2 miliar atau Rp 19,8 triliun. Hal ini membuat PT KAI yang merupakan ketua konsorsium BUMN dalam proyek tersebut, memiliki utang sebesar Rp 6,9 triliun dari China Bank Development (CDB) untuk pembayaran biaya tambahan proyek Whoosh.

Namun demikian, dengan ditolaknya opsi pembayaran utang Whoosh dengan APBN oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Herry menilai utang tersebut tidak akan memengaruhi stabilitas makroekonomi Indonesia.

“Apalagi Menteri Keuangan sudah tegas tidak ingin melibatkan APBN dalam penyelesaian masalah Whoosh,” katanya.

Saat ini, Herry melihat beban PT KAI sudah sangat besar, bukan hanya dari utang Whoosh, tetapi juga biaya operasional Whoosh karena PT KAI adalah pemimpin konsorsium. Dari situasi ini, menurutnya membuat PT KAI berpotensi meminta tambahan modal dari pemerintah.

“Secara regulasi ini sah (meminta suntikan modal), apalagi proyeknya penugasan. Namun, Menteri Keuangan sudah tegas menolak ikut menanggung beban utang Whoosh. Menkeu menyerahkan ke Danantara untuk mengatasinya. Menurut saya ini sudah benar, sehingga tidak menjadi beban fiskal kita yang terbatas,” kata Herry.

Baca Juga  Pasaran Mengantisipasi Kesepakatan Perdagangan AS-China, Harga Tembaga Semakin Kuat

Mengenai pembengkakan biaya pada proyek Whoosh, bahkan nilai investasinya melebihi proyek kereta cepat Saudi Land Bridge yang memiliki jarak lebih panjang yaitu 1.500 km, Herry menilai hal ini bisa disebabkan oleh perencanaan yang tidak matang.

Panjang jalur Whoosh tercatat sepanjang 142,3 km dari Jakarta hingga Bandung, sementara Saudi Land Bridge yang akan menghubungkan Laut Merah di Jeddah dengan Teluk Arab di Dammam melalui ibu kota Riyadh memiliki panjang hingga 1.500 km. Meskipun demikian, angka investasi untuk proyek Whoosh mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120,6 triliun (kurs Rp 16.602 per dolar AS). Angka tersebut lebih besar dibandingkan nilai investasi Saudi Land Bridge yang senilai USD 7 miliar atau sekitar Rp 116,2 triliun (kurs Rp 16.602 per dolar AS).

“Kenaikan biaya kereta cepat tersebut, terutama disebabkan oleh perencanaan yang tidak matang. Indikasi dari kasus ini misalnya, ada relokasi jalur fasilitas umum, maupun komponen konstruksi yang harganya meningkat. Jika perencanaannya sudah baik di awal, tentu tidak akan ada pembengkakan biaya yang sangat besar saat konstruksi jalur kereta cepat Jakarta-Bandung,” katanya.

Selain itu, alasan pembengkakan lain menurut dugaan Herry adalah adanya kenaikan biaya dalam komponen pembebasan lahan. Meski begitu, hal ini seharusnya bisa diselidiki secara hukum.

Merupakan respons terhadap kenaikan biaya proyek Whoosh, Ketua Forum Pembiayaan Transportasi dari MTI, Muhammad Syaifullah menilai bahwa kenaikan biaya semacam ini sebenarnya sering terjadi pada proyek besar di dunia. Namun mitigasi risiko seharusnya sudah dilakukan.

“Mitigasi risiko dilakukan salah satunya dengan melakukan survei dan kajian yang komprehensif. Biaya pembangunan proyek MRT/Subway di Amerika mengalami pembengkakan luar biasa sehingga penyelesaian proyek sangat terlambat,” kata Syaifullah.

Baca Juga  Pemerintah Larang Impor Pakaian Bekas, Menteri UMKM Sebut Bea Cukai “Buka Keran”

Saat ini, MTI tidak memiliki dokumen Studi Kelayakan (FS), Desain Teknik Lanjutan (DED) maupun Gambar As Built dari proyek Whoosh dan Saudi Land Bridge sehingga tidak dapat memberikan analisis detail mengapa proyek Whoosh lebih mahal dibandingkan Saudi Land Bridge.

Meskipun demikian, ia memberikan sedikit gambaran bahwa proyek kereta cepat yang memiliki konstruksi membelah gunung biasanya akan memiliki biaya yang lebih tinggi.

Konstruksi yang memiliki terowongan atau tunnel, baik membelah gunung ataupunbawah tanahakan memiliki biaya yang jauh lebih tinggi daripada strukturtinggiStruktur elevated lebih mahal daripada yangdi tingkat kelas,” kata Syaifullah.

Selain itu, penambahan biaya juga bisa berasal dari adanya desain yang mempertimbangkan potensi kebencanaan di wilayah Jakarta dan Bandung.

“Seperti yang diketahui, di daerah Jakarta dan Bandung memiliki potensi pergeseran lempeng bumi seperti yang terjadi di jalan tol yang mungkin berdampak pada perhitungan desain dan konstruksi,” katanya.

Syaifullah juga menduga pembengkakan biaya bunga pinjaman juga turut berpengaruh dalam naiknya biaya proyek Whoosh karena biaya bunga pinjaman proyek ini lebih mahal dari pinjaman lainnya, tetapi memberikan struktur dan pola pengembalian yang lebih lunak. “Hal ini perlu dicek dan dipastikan kebenarannya,” kata Syaifullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *