Jakarta – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menekankan pentingnya literasi keuangan dalam mendorong potensi ekonomi digital Indonesia. Tanpa pemahaman finansial yang memadai, nilai ekonomi digital nasional yang diperkirakan mencapai USD 360 miliar atau sekitar Rp 5.984 triliun (kurs Rp 16.621) berisiko tidak tergarap optimal.
“Tanpa literasi keuangan yang memadai, potensi besar ekonomi digital akan kehilangan makna,” ujar Cak Imin dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) & IFSE Expo 2025 di JCC Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (31/10).
Ia menyoroti masih rendahnya pemahaman finansial masyarakat, dengan sekitar 40 persen penduduk belum melek finansial dari segi pengetahuan, sikap, maupun perilaku. Menurutnya, transformasi digital ekonomi tidak boleh berhenti pada pembangunan infrastruktur semata, tetapi harus mencakup peningkatan literasi, perluasan akses, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
“Tujuannya agar digitalisasi menjadikan bangsa kita semakin berdaya dan memiliki daya saing dibanding negara lain,” tambahnya.
Bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM, literasi keuangan digital krusial untuk memahami layanan keuangan digital, memanfaatkannya secara maksimal, sekaligus melindungi diri dari risiko digital.
Cak Imin mencontohkan sistem pembayaran terintegrasi seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), yang telah digunakan lebih dari 50 juta gerai usaha. Mayoritas, sekitar 93,13 persen, adalah UMKM. Penerapan QRIS membantu UMKM meningkatkan omzet dan perputaran ekonomi lokal, sekaligus menegaskan peran mereka sebagai tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar 50 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan lebih dari 90 persen tenaga kerja.
“UMKM membuktikan bahwa teknologi digital, khususnya di sektor keuangan, mampu memberikan dampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan ekonomi,” tutup Cak Imin. a5







