JAKARTA — Senam stroke dinilai dapat membantu mencegah terjadinya stroke dengan prinsip menggerakkan seluruh sendi dan otot, mulai dari leher hingga kaki.
“Senam stroke adalah latihan fisik dengan berbagai variasi gerakan yang melibatkan otot dan sendi dari leher, lengan, punggung, perut, panggul, lutut hingga kaki,” ujar Ketua Panitia Peringatan Hari Stroke 2025, dr. Yuliana Imelda Ora Adja, M.Biomed., Sp.N.
Menurut dr. Yuliana, manfaat senam stroke tidak hanya berfokus pada pencegahan stroke, tetapi juga kesehatan tubuh secara menyeluruh. “Manfaatnya antara lain menstimulasi kerja saraf dan otot, melancarkan aliran darah, hingga mencegah hipertensi, diabetes, obesitas, serta serangan jantung dan stroke,” katanya.
Ia menambahkan, beberapa variasi senam stroke juga dirancang untuk meningkatkan koordinasi tubuh yang dapat menstimulasi kerja otak. “Aktivitas fisik perlu dilakukan secara rutin, baik untuk mencegah serangan pertama maupun serangan berulang,” ujarnya.
Rekomendasi Aktivitas Fisik untuk Cegah Stroke
Prinsip aktivitas fisik untuk pencegahan stroke primer (belum pernah mengalami stroke) berdasarkan rekomendasi American Heart Association/American Stroke Association (AHA/ASA 2024) meliputi:
Aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu, atau
Aktivitas fisik intensitas berat minimal 75 menit per minggu, serta
Menghindari perilaku sedentari (kurang gerak).
Untuk pencegahan stroke sekunder (pernah mengalami stroke), AHA/ASA 2021 merekomendasikan:
Penyintas yang mampu melakukan aktivitas fisik: latihan aerobik intensitas sedang minimal 4 kali seminggu selama 10 menit per sesi, atau intensitas berat minimal 2 kali seminggu selama 20 menit per sesi.
Penyintas yang tidak dapat beraktivitas fisik: berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk regimen aktivitas yang sesuai di luar rehabilitasi rutin.
Menghindari perilaku sedentari dengan berdiri atau melakukan aktivitas fisik ringan selama 3 menit setiap 30 menit.
Peringatan Hari Stroke Sedunia 2025 di Kupang
Puncak peringatan World Stroke Day 2025 tingkat nasional dipusatkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) Pusat bersama Perdosni Cabang Denpasar pada 13–16 November 2025.
Acara ini dihadiri Ketua Umum Perdosni, Dr. dr. Dodik Tugasworo, Sp.N.(K), perwakilan Pemerintah Provinsi NTT, Wakil Bupati TTU Kamillus Elu, Ketua Umum Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N., MARS., MH., Ketua Kolegium Neurologi Prof. Dr. dr. Syahrul, Sp.N.(K), serta Ketua Panitia dr. Yuliana Imelda Ora Adja.
“Peringatan World Stroke Day digelar bergiliran oleh 31 cabang Perdosni untuk meningkatkan kepedulian terhadap bahaya stroke. Tahun ini menjadi momentum penting memantik kesadaran di wilayah Indonesia Timur,” ujar Dr. Dodik.
Menurutnya, stroke yang diperingati setiap 29 Oktober masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di Indonesia. “Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat agar dapat mengenali gejala stroke dan segera mencari pertolongan medis,” katanya.
Ancaman Stroke Masih Tinggi
Stroke merupakan penyakit yang mengancam jiwa. Setiap menit serangan stroke dapat membunuh sekitar 1,9 juta sel otak. Penyakit ini menjadi penyebab utama kecacatan dan penyebab kematian nomor dua di dunia.
Di Indonesia, stroke menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian, yakni 11,2% dari total kecacatan dan 18,5% dari total kematian.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Stroke juga menjadi penyakit katastropik dengan pembiayaan terbesar ketiga setelah penyakit jantung dan kanker, yaitu Rp 5,2 triliun pada 2023.
Secara global, angka kematian akibat stroke mencapai 5,5 juta jiwa per tahun, dengan lebih dari 50% penyintas mengalami cacat kronis.
Dr. Dodik menyebutkan, peningkatan kasus pada usia muda menjadi perhatian serius. “Tidak hanya usia di atas 50 tahun, stroke kini banyak terjadi pada usia produktif, 30 hingga 40 tahun,” ujarnya.
Perlu Kolaborasi untuk Tekan Angka Stroke
Dr. Dodik menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menekan tingginya angka stroke. “Kami berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pencegahan, mengenali tanda dan gejala stroke, serta pentingnya membawa pasien ke rumah sakit secepat mungkin,” katanya.
Edukasi yang tepat dan penanganan cepat, menurutnya, dapat menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kecacatan. a5







