JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hal itu disampaikan dalam Upacara Peringatan Hari Oeang ke-79 yang digelar di halaman Gedung A.A. Maramis, Jakarta, Kamis (30/10/2025).
Dalam amanatnya, Purbaya menyampaikan bahwa tema peringatan tahun ini, “Kemenkeu Satu, Kawal Asta Cita,” mencerminkan pentingnya soliditas seluruh jajaran Kemenkeu dalam mengawal tujuan ekonomi nasional agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kemenkeu harus jadi institusi yang dipercaya rakyat. Karena tanpa kepercayaan, sehebat apa pun kebijakan tidak akan berhasil,” tegas Menkeu di hadapan para pejabat dan pegawai Kemenkeu yang mengikuti upacara secara langsung dan daring.
Kemenkeu Satu, Satu Napas untuk Negeri
Purbaya menekankan, makna “Kemenkeu Satu” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan tanggung jawab bersama bagi seluruh insan Kemenkeu, baik di pusat maupun di daerah, dalam menjaga stabilitas fiskal dan ekonomi nasional.
“Kemenkeu Satu berarti kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Kita ini satu sistem, satu napas, satu tanggung jawab. Dari perancang kebijakan di pusat, sampai pegawai di kantor pelayanan di pelosok, semuanya penting,” ujarnya.
Menurut Purbaya, kolaborasi internal yang kuat menjadi kunci agar kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dapat berjalan efektif serta berdampak langsung bagi masyarakat.
Pertumbuhan 8 Persen Harus Terasa oleh Rakyat
Dalam pidatonya, Purbaya menyoroti target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang telah ditetapkan Presiden Prabowo Subianto sebagai sasaran pembangunan nasional. Ia menekankan bahwa pertumbuhan tersebut harus menjadi pertumbuhan yang berkualitas, bukan sekadar angka statistik.
“Penerimaan negara harus dikelola secara optimal dan belanja diarahkan seefektif mungkin untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Purbaya.
Ia menambahkan, setiap kebijakan yang diambil oleh Kemenkeu harus berorientasi pada kesejahteraan rakyat, membuka lapangan kerja, dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Semangat Hari Oeang dan Sumpah Pemuda
Peringatan Hari Oeang ke-79 kali ini bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda. Menurut Purbaya, keduanya memiliki makna yang saling berkaitan: semangat persatuan dan tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan ekonomi nasional.
Ia mengingatkan bahwa lahirnya Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 1946 merupakan simbol penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan ekonomi bangsa.
“Hari Oeang bukan sekadar perayaan sejarah keuangan negara, tetapi pengingat bagi kita semua untuk menjaga kedaulatan ekonomi. Dulu kita berjuang dengan keberanian, kini kita berjuang dengan integritas dan profesionalisme,” ujar Purbaya.
Kepada generasi muda, khususnya di lingkungan Kemenkeu, ia berpesan agar terus meningkatkan kapasitas diri, menjunjung integritas, dan menjaga semangat pengabdian.
Tentang Hari Oeang
Hari Oeang diperingati setiap 30 Oktober untuk menandai diterbitkannya Oeang Republik Indonesia (ORI) pada tahun 1946—mata uang pertama Republik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.
Peringatan ini menjadi simbol kedaulatan ekonomi dan keuangan nasional, sekaligus momentum refleksi bagi Kemenkeu untuk memperkuat perannya dalam pembangunan bangsa. A3







